OLEH: LANANG

rengung dari lanang

Mambalan selain dikenal sebagai desa yang penuh dengan cerita. Dari ragam cerita itu ada satu cerita yang membuat saya tergugah yakni rengung, cerita ini memang tidak asing dikalangan warga, sebab sampai hari ini renggung itu masih ada, namun cerita tentang rengung memiliki banyak versi di kalangan warga.

Satu sore saya dan najib berkunjung kerengung untuk melihat kondisi, sejak kecil saya dan kawan kawan sering sekali ke tempat ini untuk bermain atau memancing. Sore itu saya dan najib menjumpai puk umak yang kebetulan sedang duruh air. Pertemuan itu menjadi sangat istimewa sebab bagi saya sebagai anak muda dapat berbinbacang tentang air rengung adalah satu ke istimewan.

Menurut puk uma rengung sendiri sudah dimanfaatkan oleh warga dari dulu untuk kebutuhan, mandi atau mencuci, sebagai anak muda saya cukup penasaran kenpa lalu tempat ini disebut dengan renggung, sebab setiap tempat memiliki ceritanya sendiri, terang puk uma sore itu rengung itu berasal dari kata anggerungan yang berarti genangan, memang secara lanskap kawasan ini seperti cekungan, puk uma menceritakan saya tentang asal usul air renggung, rengung berhulu di lingsar di salah satu mata yang bernama Sarasute .

Rengung adalah tempat yang sangat istimewa, selain air yang mengalir ada sosok waliyullah yang bermukim, cerita puk uma sore itu waliyullah yang dimaksud adalah ahmad bin ahmad atau yang kita kenal sekarang sebgai lalu gde. Dulu puk lalu sangat gemar berhaluat direnggung, dan aktivitas yang digemari adalah membuat senangin dan layangan. Puk uma juga menceritakan saya tentang puk lalu yang membelakokan sungai rengung dengan sebatang lidi, dalam ceritanya konon akan banyak anak cucu kami akan hidup di seskitar sini, sehingga sungai itu dibelokan dan itu juga salah satu karomah dari waliyullah itu dan sungai renggung itu menjadi saksi biksu.

Namun ini bukan soal membuktikan cerita itu, demikianlah cerita lisan itu menjadi satu tradisi tutur yang terus diwarisakan dari generasi ke generasi. Dalam ceriita puk uma sore itu ia menceritakan saya tentang sebuah tuna putih yang diyakini sebagai penunggu di rengung biasanya tuna itu keluar di waktu waktu tertentu dan dapat dilihat oleh orang orang tertentu. Mitos ini berkembang di warga. Artinya sebelum kata konservasi itu dikenal warga mambal sudah tau cara mengkonservasi mata air. Hubungan antara alam dan manusia masih bisa kita lihat di rengung ini.

Dalam versi yang lain tentang renggung, siang itu saya dan najib Kembali ke renggunng menjumpai mik raden rais , kami sengaja janjian di rengung walapun setiap hari saya bertemu dengan mik raden rais. Siang itu mik raden rais menceritakan kami tentang renggung, sebelum ia menceritakan kami soal rengung terlebih dahulu ia mengajukan pertanyan ke kami , untuk apa cerita tentang rengung ini? dan kenapa kita harus di rengung?, kenapa gak dirumah sambil ngopi untuk menceritakan tentang rengung, ada apa gerangan sebenarnya ini. Mik kami ini sedang ada kegiatan gawe ninting, ini gawe ninting yang kedua yang kita buat, namun gawe ninting tahun ini punya format yang berbeda jika tahun lalu gawe nintiing dilakukan selama satu bulan, tahun ini kita buat selama dua bulan, selama bulan September ini kita buat semacam wadah belajar yang kami sebut menyigi ninting, kaitanya dengan pertemuan kita siang ini adalah, ini adalah impelementasi dari menyigi ninting jadi kita akan menulis tentang tentang hal hal yang ada di desa ini.

Tentang renggung

Kata mik raden rais renggung sendiri berasal dari dua kata, reng = sareng dan gung= agung

Menurut mik raden rais rengung artinya bersama sama menjaga keagungan tuhan. Dan asal usul renggung sendiri, dahulu ada kesepakatan antara orang tua dari mambal dan lingsar untuk mengalirkan mata air surasute yang ada di lingsar dialirkan sampai ke mambal mengingat mambal dan lingsar memiliki hubungan yang sangat erat seperti keluarga sehingga air dialirkan hingga mambal. Di balik kesepakatan itu terismpan cara pandang warga mambal dan lingsar di masa lalu tentang air . Mereka tidak melihat mata air sebagai sesuatu yang dimiliki satu wilayah, melainkan sebagai sumber kehidupan.

Renggung adalah ruang perjumpaan ,

Selain kisah-kisah yang masih sering diceritakan oleh masyarakat, Rengung juga dikenal sebagai ruang perjumpaan yang penting bagi warga desa. Sejak dahulu hingga sekarang tempat warga saling bertemu, berbincang. Di kawasan Rengung terdapat dua tempat pemandian yang masih digunakan hingga saat ini. Keberadaan kedua pemandian tersebut menjadi bukti bahwa hubungan masyarakat dengan sumber air di tempat ini masih terus terjaga. Pemandian pertama berada di bawah Cangkringan. Tempat ini sejak dahulu dikenal sebagai pemandian yang digunakan oleh para perempuan. Hingga sekarang, aktivitas di tempat tersebut masih dapat ditemui, terutama pada pagi dan sore hari. Para perempuan datang untuk mandi, mencuci pakaian, atau sekadar mengambil air. Sekitar 500 meter dari pemandian perempuan terdapat pemandian kedua yang sejak lama digunakan oleh laki-laki. Tempat ini juga masih aktif hingga sekarang. Sama seperti pemandian di bawah Cangkringan, lokasi ini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari warga. Para laki-laki datang untuk mandi setelah bekerja di sawah, kebun, atau setelah menjalankan aktivitas lainya.Banyak warga masih mengingat bagaimana pemandian tersebut dahulu selalu dipenuhi orang. Mereka datang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk menjalin hubungan sosial Hingga saat ini, meskipun jumlah pengguna tidak sebanyak dulu, kedua pemandian tersebut tetap mempertahankan fungsinya sebagai ruang perjumpaan. Warga yang datang masih dapat merasakan suasana kebersamaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun

Rengung tidak saja soal air

Tanah yang ada di sekitaran renggung adalah tanah pecatu, tanah yang dulu dihibahkan oleh keluarga puk tuhur, dan sekarang dikelola oleh puk uma selaku penghulu desa. Tanah ini dihibahkan untuk menggaji penghulu desa. Siapapun jadi penghulu desa biasanya akan diberikan untuk mengelola tanah pecatu ini untuk bekal hidup, mengingat penghulu desa akan mengurus segala keperluan warganya. Di tanah pecatu ini ditanami kangkung sebab tanah ini tidak pernah kekeringan air, dan akhir akhir ini di tanah pecatu bekerjasama dengan bumdes untuk mengelola melon.

Tiga tahun terakhir rengung sempat terancam keberlangsungannya, ada penggembang property yang membangun BTN yang tak jauh dari Kawasan mata air waktu itu warga kompak untuk menolak keberadaan btn ini, karena mengkhawatirkan akan merusak stabilitas mata air. Namun perlawanan warga itu kalah.

Sejenak kita Kembali ke puk umak, setelah dia mengetahui tentang niat kami yang akan menulis tentang rengung ini, ia berharap agar tulisan ini tidak selesai di atas kertas, namun catatan itu bisa mempertahankan rengung. Semoga renggungg ini tidak saja ceritanya yang diwariskan namun kelestarian dan keberlangsungan rengumg ini bisa terus di wariskan.

Renggung hari ini

Pada tahun 2018 silam air rengung akhirnya di kembangkan secara massif oleh pihak desa. Agar semua warga mambalan dapat merasakan manfaat air ini, sehingga dibuatkanlah saluran air dengan metode modern dan dikelola melalui pamsimas. Setiap rumah memasang meteran namun biayanya tentu tak semahal pdam dan setiap pembayaran di sisihkan lima ribu rupiah untuk masjid. Di musim el nino yang ekstrim air renggung ini menjadi andalan warga sebab airnya tetap mengalir deras beda dengan air pdam air yang tidak pernah datang dimusim kemarau pun kalau datang itu biasanya punya waktu untuk di gilir. Ini membuktikan betapa terjaganya air rengung ini dari masa ke masa meski dalam ancaman , kita juga bisa melihat kelebihan air rengung ini kala musim hujan , jika musim hujan tiba biasanya air pdam akan macet atau keruh, namun tidak dengan air rengung .