MENYEGI NINTING (TOKOH)
BAPUK THUHUR SOSOK PANUTAN BERJIWA TULUS UNTUK
DESA MAMBALAN
Kamis, 17 September pukul 10 pagi, saya dan kawan-kawan berniat untuk mengunjungi salah satu orang tua di kampung halaman kami, Desa Mambalan. Beliau adalah sosok pribadi yang teduh dan sangat kami hormati. Karena itu, beliau menjadi teladan. Tidak hanya bagi keluarganya, namun bagi masyarakat di Mambalan. Beliau adalah Haji Lalu Muhammad Thuhur atau kami biasa menyebut beliau Bapuk Thuhur.
Sesampai kami di kediaman Bapuk Thuhur, ia tengah mendengarkan ceramah dari handphonenya sembari memijat kakinya dengan alat pijat yang dibelikan oleh anaknya. Sebagaimana yang kita ketahui, dikala manusia sudah mulai memasuki usia senja, kebugaran fisiknya pun akan semakin menurun. Tetapi hal itu tidak membuat padam jiwa Bapuk Thuhur untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mendengarkan tausiah atau ceramah keagamaan dari handphonennya.
Ketika beliau tau bahwa yang datang itu saya dengan kawan saya Lanang, beliau segera keluar dan meyuruh saya untuk menunggu di Santren (Musholla). Di Santren inilah dulu saya mengaji. Namun sekarang sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat mengaji, semenjak Papuk Hamidah (adik dari Bapuk Thuhur) dan Papuk Jamil (suami Papuk Hamidah) sebagai pengajar ngaji tidak tinggal di sana lagi.
Tidak lama, Bapuk Thuhur pun menghampiri kami di santren dengan menggunakan sarung dan setelan baju koko dan kopiah putih yang selalu beliau kenakan. Kawan saya Lanang memulai pembicaraan dengan sedikit canggung, ”Bapuk kedatangan kami ini, Naufal katanya ingin bertanya tentang beberapa hal tentang Bapuk”, ucap Lanang.
Saya pun hanya bisa mengangguk sambil senyum malu-malu dan sedikit kesal karena Lanang menangguhkan nama saya saat membuka pembicaraan itu. “Bisakah Bapuk ceritakan di mana dan kapan Bapuk lahir?”, ucapku mulai bertanya. Bapuk Thuhur mulai menceritakan dan kurang lebih beginilah kira-kira jika saya simpulkan.
Bapuk Thuhur lahir di desa Mambalan 15 oktober 1951, beliau putra pertama dari pasangan Lalu Mahruf dan Baiq Darwiyah yang memiliki 7 orang anak, diantaranya: Lalu Muhammad Thuhur, Lalu Zaidun, Baiq Saidah, Baiq Saknah, Lalu Zainun, Baiq Hamidah, dan Baiq Rafidah. Bapuk Thuhur juga mengatakan pernah hidup dengan salah satu saudara beda bapaknya yaitu Datu Markawi. Tetapi setelah itu, Datu Markawi diambil dan diasuh oleh keluarga bapaknya.
Bapuk Thuhur memiliki 4 orang anak dari istri yang pertamanya Hj. Baiq Munawarah, di antaranya: Lalu Ahmad Sukri, Baiq Halimatussa’diyah, Baiq Rahmah, Baiq Istiqamah. Kemudian Bapuk Thuhur menikah lagi dengan Baiq Maesum dan memiliki 4 orang anak, di antaranya: Lalu Humaidi, Baiq Hikmawati, Baiq Mutmainnah, Lalu Muhammad Taqiyuddin.
Bapuk Thuhur adalah seorang yang mempunyai sifat pekerja keras, bahkan “pada zaman dahulu beliau pernah menjadi penjual minyak gas keliling” kata Baiq Istiqamah (anak ke-4 Bapuk Thuhur). Selain itu, beliau dikenal sebagai pribadi yang jujur. Mungkin karena kepribadiannya yang baik, kemudian Bapuk Thuhur dipercaya menjadi penghulu desa sambil merangkap menjadi P3K. Pada tahun 2003, masa jabatan kepala desa telah selesai. Maka dari itu, akan dilakukan pemilihan kepala desa yang baru. Tetapi karena tidak ada yang mencalonkan diri, maka dipilihlah Bapuk Thuhur menjadi kepala desa Mambalan yang baru. Di saat Bapuk Thuhur menjalankan amanah sebagai kepala desa, beliau benar-benar mendedikasikan dirinya demi kemaslahatan masyarakat desanya. Saya pun bertanya “Apa tantangan terbesar bapuk ketika menjabat sebagai kepala desa?”. Beliau menjawab “tidak ada tantangan apapun yang saya rasakan”. Sepertinya, pada waktu itu desa Mambalan memang aman dan tentram di bawah kepemimpinan beliau.
Tahun demi tahun beliau jalani sebagai kepala desa. Kemudian pada tahun 2008, masa jabatan beliau sudah selesai dan akan dilakukan pemilihan kepala desa yang baru. Karena dorongan dari orang-orang yang mempercayainya, beliau maju kembali mencalonkan diri sebagai kepala desa dengan 4 orang pesaingnya, 2 orang dari dusun Mambalan dan 2 orang dari dusun Jeringo. Pada waktu itu, Jeringo belum terpecah menjadi desa. Karena kepribadiannya dan kepercayaan masyarakat akan bagaimana beliau menjalankan amanah, beliau kembali terpilih menjadi kepala desa Mambalan.
Di masa jabatan beliau yang kedua ini, disanalah terjadi pemekaran wilayah desa Mambalan. Seperti dusun Gelangsar, ia mulai memisahkan diri menjadi desa pada tahun 2010, dusun Jeringo pada tahun 2011, dan Penimbung pada tahun 2011. Pada masa kepemimpinan beliau juga, dahulu ketika bupati Lombok Barat kala itu mengadakan festival budaya di Senggigi. Desa Mambalan diundang sebagai perwakilan dari kecamatan Gunungsari sebagai peserta dari festival budaya tersebut.
Dari sana, bisa disimpulkan bahwa dulu masyarakat desa Mambalan itu sangat kompak, namun sangat kontras dengan keadaan masyarakat desa Mambalan saat ini. Kemudian salah satu teman saya bertanya, “Bapuk kenapa masyarakat desa Mambalan yang dulu begitu kompak dan sekarang tidak kompak?”, beliau menjawab, “ya memang karakter orang-orang Mambalan memang seperti itu, dan juga dulu masih sedikit orang-orang yang berpendidikan tinggi, dan sekarang sudah banyak orang pintar, dari sanalah banyak timbul pendapat yang berbeda beda”.
Pada tahun 2015, masa jabatan beliau sebagai kepala desa Mambalan berakhir. Di masa pensiunnya ini, beliau bukan tipikal orang tua yang hanya berdiam diri dirumah menikmati masa tua, tetapi beliau aktif menghidupkan masjid. Ketika tidak ada orang yang menjadi imam ataupun adzan, Bapuk Thuhur lah yang mengisinya. Beliau juga yang menjadi inisiator untuk mengadakan pengajian rutinan malam Senin di masjid Darussalam Mambalan, ya meskipun jamaah yang datang kadang banyak dan kadang sedikit. Karena keaktifan beliau menghidupkan masjid itu, kemudian beliau ditunjuk kembali menjadi penghulu desa pada tahun 2025. Namun beliau mengundurkan diri pada tahun 2026, karena beliau merasa fisiknya sudah tidak seperti dulu lagi. Maka beliau memilih mengundurkan diri dan menikmati masa tuanya untuk fokus beribadah dan menghidupkan masjid.
Salah satu kawan saya bernama Yoga pun bertanya, “kira-kira apa pesan Bapuk Thuhur kepada anak muda atau remaja desa Mambalan seperti kami ini? ", “Sebenarnya tujuan remaja itu dibentuk untuk menghidupkan masjid", kata beliau. Mendengar beliau berkata seperti itu, tentu membuat kami sadar akan betapa pentingnya peran anak muda atau remaja di dalam kehidupan bermasyarakat, baik di bidang keagamaan ataupun lainnya. Khususnya untuk desa Mambalan ini.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 11.20 wita, kami pun sadar karena sebentar lagi akan masuk waktu solat dzuhur, pastinya Bapuk Thuhur akan bersiap-siap untuk berangkat solat ke Masjid. “Bapuk kami izin pamit pulang, terima kasih atas waktunya bapuk”, ucap saya. Bapuk Thuhur menjawab, “Iya sama-sama”, kami pun mencium tangan beliau lalu mengucapkan salam dan pulang.