OLEH: BAIQ UMI

Gong Datu Pateq

Gong Datu Pateq

Malam itu, saya bersama Nayla, Rima dan Yoga pergi ke rumah bik Rama. Ada satu hal yang ingin kami cari tahu malam itu yaitu Gong Datu Pateq. Kedatangan kami merupakan bagian dari perjalanan Gawe Ninting, sebuah gerakan kecil yang mengajak kami untuk kembali melihat kampung sendiri. Sebab, terkadang kita terlalu sibuk mencari hal-hal menarik di luar, sampai lupa bahwa kampung sendiri ternyata menyimpan begitu banyak cerita. Lewat Gawe Ninting, kami ingin kembali mengenal apa yang ada di desa kami. Bukan hanya tempat-tempatnya, tetapi juga sejarah, kebudayaan, tradisi, dan cerita yang masih tersimpan dalam ingatan orang-orang yang lebih dulu hidup dan mengenalnya. Salah satunya adalah Gong Datu Pateq.

Sesampainya di rumah bik Rama, kami terlebih dahulu menyapa dan menanyakan kabar beliau. Setelah itu, kami memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan kami. Kami ingin menggali kembali cerita tentang Gong Datu Pateq bagaimana sejarahnya, bagaimana gong itu bisa berada di Mambalan, dan cerita apa saja yang masih diwariskan hingga hari ini. Sebelum mulai bercerita, bik rama terlebih dahulu mengajak kita melihat gong tersebut dan menyalakan menyan di sebelahnya. Dari situlah suasana hangat terasa dan cerita malam itu dimulai.

Orang yang kami temui malam itu adalah Denda Ramayani, yang akrab kami panggil bik Rama. Beliau lahir di Mambalan pada 21 Juni 1971 dan dalam kesehariannya bekerja sebagai buruh harian lepas. Pertemuan dengan bik Rama terasa memiliki kedekatan tersendiri dengan cerita yang sedang kami gali. Dalam penuturan keluarga, Denda Siti Fatimah yang disebut dalam kisah Gong Datu Pateq merupakan ninik dari Denda Ramayani. Denda Siti Fatimah sendiri dikenal sebagai orang Mambalan, sementara makamnya berada di Sesela. Hubungan tersebut membuat kisah tentang Gong Datu Pateq bukan hanya menjadi cerita tentang masa lalu yang jauh, tetapi juga memiliki hubungan dengan keluarga Birama.

Ketika kami mencoba menggali lebih jauh tentang garis keturunan tersebut, ternyata tidak banyak yang mengetahui secara pasti bagaimana silsilahnya. Cerita itu lebih banyak bertahan melalui ingatan dan penuturan dari generasi ke generasi. Bagi kami, justru di situlah menariknya. Tidak semua sejarah kampung tersimpan dalam buku atau catatan tertulis. Sebagian hidup dalam ingatan orang-orang yang mewariskannya melalui cerita. Ada nama yang masih diingat, tempat yang masih dikenal, tetapi ada pula bagian-bagian yang perlahan mulai samar.

Menurut penuturan bik Rama, Datu Pateq sendiri merupakan anak dari Datu Ketawang yang silsilah nasabnya terus ke Datu Mungkala Geni. Datu Mungkala Geni ini mempunyai dua saudara, Datu Jenggala (Kuripan) dan Datu Karolanala (Langko). Tiga bersaudara ini adalah keturunan dari Deneq Mas Laki - Deneq Mas Laki Galiran - Deneq Mas Laki Gigiran, dan Deneq Mas Permas Gingsiran. Deneq Mas Permas Gingsiran inilah yang tercatat sebagai cikal bakal kedatuan Mambalan abad ke 16 atau sekitar tahun 1648.Datu Pateq merupakan suami dari Denda Siti Fatimah. Dari cerita tersebut, nama Datu Pateq dan Denda Siti Fatimah kemudian menjadi bagian penting dalam kisah Gong Datu Pateq.

Gong ini sendiri merupakan warisan turun-temurun. Gong tersebut masih dirawat oleh orang-orang yang memiliki garis keturunan dengan pewarisnya. Karena itu, merawat Gong Datu Pateq bukan sekadar menyimpan sebuah benda tua, tetapi juga menjaga sesuatu yang dianggap sebagai bagian dari warisan keluarga dan sejarah kampung. Dalam cerita bik Rama, Gong Datu Pateq juga berkaitan dengan masa ketika terjadi peperangan antara kelompok Islam dan Hindu. Pada masa tersebut, menurut penuturannya, gong digunakan oleh Anak Agung. Sumber tertulis dari RRI juga mencatat Gong Datu Pateq sebagai salah satu benda pusaka peninggalan sejarah Kedatuan Mambalan yang telah berusia lebih dari 400 tahun dan masih dijaga oleh keturunan yang memiliki hubungan dengan Datu Pateq. [Mengenal Gong Datu Pateq — RRI](https://rri.co.id/mataram/features/340227/mengenal-gong-datu-pateq-benda-pusaka-peninggalan-sejarah-kedatuan-mambalan?utm_source=chatgpt.com)

Cerita tentang anak Agung kemudian membawa kami pada cerita lain yang tidak kalah menarik. Menurut penuturan yang kami dengar, Anak Agung yang berkaitan dengan Gong Datu Pateq berasal dari Karangasem, Bali. Dari cerita inilah muncul hubungan yang dipercaya masyarakat antara Karangasem dan Karang Bageaqan, tempat Gong Datu Pateq berada dan disimpan di Mambalan. Cerita tersebut membuat kami melihat bahwa Gong Datu Pateq tidak hanya menyimpan kisah tentang satu benda atau satu tempat. Di dalamnya terdapat pula cerita tentang perjalanan manusia dan hubungan antardaerah yang masih diingat oleh masyarakat. Namun, ada satu bagian dari Gong Datu Pateq yang sejak awal membuat kami penasaran. Mengapa bagian tengah gong ini berlubang?

Bik Rama kemudian menceritakan kisahnya.

Dahulu, Gong Datu Pateq sering dibawa oleh Anak Agung bersama dua orang pengawalnya dari Keraton Mayura menuju Mambalan. Gong tersebut harus dibawa ke sana kemari. Salah seorang pengawalnya bahkan merasa kesal karena harus terus-menerus membawanya. Dalam cerita yang disampaikan bik Rama, pengawal itu sampai berkata kurang lebih, “Gong ini terus yang kita bopong, kesana-kemari.” Gong tersebut kemudian dipukul dan, menurut cerita yang kami dengar, suaranya dipercaya dapat terdengar sampai ke Taman Mayura. Karena sering digunakan, bagian tengah gong kemudian mulai mengalami kerusakan hingga muncul lubang kecil. Lubang itu kemudian semakin besar setelah Gong Datu Pateq mengalami suatu kejadian ilangnya bik Tiwi di hutan.

Kami tidak mengetahui secara pasti bagaimana seluruh peristiwa itu terjadi. Namun, cerita tersebut membuat lubang di tengah Gong Datu Pateq menjadi lebih dari sekadar kerusakan pada benda tua. Lubang itu menyimpan cerita tentang perjalanan, penggunaan, dan pengalaman orang-orang yang pernah membawa gong tersebut. Kami tidak berhenti pada satu cerita. Untuk melihat apakah kisah tentang Gong Datu Pateq juga dikenal oleh orang lain, kami kemudian mendengar penuturan dari Puk Sadri.

Menurut Puk Sadri, konon Gong Datu Pateq pernah hendak diperjualbelikan hingga ke luar daerah, bahkan sampai ke Bali. Namun, setelah gong tersebut dibeli dan dibawa keluar dari Mambalan, pembelinya kemudian mengembalikannya. Dalam cerita yang disampaikan Puk Sadri, pembeli tersebut didatangi oleh penjaga Gong Datu Pateq. Setelah kejadian itu, gong akhirnya dibawa kembali ke Desa Mambalan. Kami tidak mengetahui secara pasti bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Namun, bagi kami, cerita itu menarik untuk dicatat karena menunjukkan bagaimana masyarakat memaknai Gong Datu Pateq. Bagi sebagian orang, gong tersebut bukan sekadar benda yang dapat dipindahkan atau diperjualbelikan, tetapi memiliki nilai sejarah dan kesakralan yang membuat keberadaannya tetap dihormati. Pada akhirnya, gong tersebut kembali ke Mambalan.

Bagi masyarakat yang masih memegang cerita dan tradisi tersebut, Gong Datu Pateq bukan sembarang benda. Gong ini dianggap sakral. Bik Rama menceritakan bahwa dahulu Gong Datu Pateq digunakan dalam tradisi memanggil hujan ketika musim kemarau. Tradisi tersebut kini semakin jarang dilakukan dan menurut bik Rama hampir punah karena kehidupan masyarakat yang semakin modern. Tidak semua orang sekarang masih mempercayai tradisi tersebut. Seiring perubahan zaman, sebagian praktik dan kepercayaan yang dilakukan oleh masyarakat terdahulu mulai ditinggalkan.

Selain tradisi memanggil hujan, Gong Datu Pateq juga memiliki cerita tentang pengobatan tradisional. Menurut penuturan bik Rama, orang-orang yang datang untuk berobat berasal dari berbagai daerah. Dalam praktik yang diceritakan, Gong Datu Pateq menjadi salah satu bagian dari syarat atau perantara. Pengobatan tersebut juga menggunakan daun lekok yang diberi jampi-jampi dan disertai pembacaan doa khusus. Berbagai keluhan disebut pernah dibawa dalam pengobatan tersebut, seperti penyakit kulit, sakit kepala, hingga bau badan. Namun, di tengah cerita tentang berbagai tradisi tersebut, bik Rama menyampaikan satu hal yang menurut kami penting untuk dicatat yaitu tetap percaya kepada Tuhan.

Menurut pemahaman yang disampaikan bik Rama, gong, daun lekok, jampi-jampi, maupun rangkaian tradisi tersebut bukanlah tempat untuk menggantungkan keyakinan. Semuanya hanya dianggap sebagai perantara atau syarat dalam tradisi, sedangkan kesembuhan dan segala sesuatu tetap diyakini berasal dari Tuhan. Setelah mendengar cerita dari bik Rama dan puk Sadri, kami mulai melihat Gong Datu Pateq dengan cara yang berbeda. Sebelumnya, mungkin kami hanya tahu bahwa ada sebuah gong tua yang menjadi bagian dari peninggalan Mambalan. Tetapi malam itu kami menemukan bahwa di balik sebuah benda terdapat begitu banyak cerita.

Mungkin tidak semua cerita ini dapat ditemukan dalam buku sejarah. Sebagiannya justru masih hidup melalui cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut, dari orang tua kepada anak-anaknya, dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Malam itu, kami mendapat kesempatan untuk mendengarnya langsung. Dan dari sana kami belajar bahwa sejarah kampung tidak selalu datang dalam bentuk bangunan tua, dokumen, atau tulisan panjang. Kadang-kadang, sejarah justru tersimpan dalam sebuah benda yang masih dijaga, dalam sebuah nama yang masih disebut, dalam sebuah lagu yang masih dinyanyikan, atau dalam cerita seorang warga yang masih mengingat apa yang pernah diceritakan kepadanya.

Dari pertemuan sederhana di rumah bik Rama, kami kembali diingatkan bahwa ternyata kampung sendiri tidak pernah benar-benar kehabisan cerita. Mungkin selama ini kita hanya belum sempat bertanya. Belum sempat mendengar atau bahkan belum sempat pulang untuk mencari tahu. Itulah yang ingin kami lakukan melalui Gawe Ninting. Bukan untuk mengubah cerita yang sudah diwariskan, apalagi memaksakan semua orang untuk mempercayainya. Kami hanya ingin mendengar, mencatat, dan mengenal kembali apa yang menjadi bagian dari kampung kami. Karena sebelum cerita-cerita itu hilang bersama waktu, mungkin sudah waktunya bagi kami untuk mulai mendengarkannya. Dan malam itu, kami pulang dengan membawa satu cerita dari kampung sendiri tentang Gong Datu Pateq.