OLEH: BAIQ IKRIMA

Kerupuk Cacak Ninik Rukmin Rima

Kerupuk Cacak Ninik Rukmin

Sore itu saya mendatangi rumah nenek saya yang bernama ninik Rukmin. Beliau adalah salah satu pengusaha kerupuk di desa Mambalan. Beliau mulai berjualan tahun 1990 pada saat anak ke 4 nya masih bayi. Beliau memulai usahanya bersama almarhum kakek saya yang bernama papuk Bariah. Usaha ninik Rukmin dimulai dengan berjualan kacang-kacangan yang diberi bumbu-bumbu dan kerupuk tembroko yang dibuatkan oleh papuk Salifah. Kemudian beliau menjajakan jualannya ke pasar-pasar, seperti ketika sore hari beliau membawanya ke pasar Sigerongan, untuk pagi harinya beliau membawanya ke pasar Gerung dan Kebon Roek. Usaha kacang-kacangan ini berlangsung selama 2 tahun.

Saat tepat satu tahun berjualan disana, beliau mulai terinspirasi untuk mencoba membuat kerupuk dari terigu yang biasa disebut kerupuk cacak atau kerupuk mambalan. Beliau terinspirasi dari teman jualannya yg bernama ibu haji Oni' yang pada saat itu laris berjualan kerupuk dari terigu. Kemudian beliau berkata kepada ibu haji Oni';

"ibu haji Oni' saya mau cobain juga yaa berjualan kerupuk seperti ini ,tapi saya akan berjualan diluar". Ucap ninik Rukmin ke ibu haji Oni’.

Kemudian haji Oni' berkata "mulai sudah mau ikut melihat jualan saya ramai". Tetapi beliau tetap kekeh untuk mencoba menjual kerupuk dari terigu. Benar saja, saat beliau mulai menjual kerupuk cacak peminatnya langsung banyak, laris manis. Usaha kacang-kacangan dan kerupuk tembrokonya tetap berjalan berdampingan.

Saat beliau sudah mulai menjual kerupuk dari terigu atau kerupuk cacak beliau bingung harus memproduksi kerupuk dalam jumlah yang banyak yang harus beliau bawa supaya bisa memenuhi kebutuhan pembelinya, karena beliau bawa sampai tiga engkel masih belum cukup. Beliau mulai berjualan dari harga kerupuk masih 50 rupiah perbungkus. Omset dari menjual kerupuk cacak ini mencapai dua sampai tiga juta. Saking laku keras usahanya beliau sampai mikir “apa saya harus bawakan mereka pakai truk supaya mereka semua bisa kebagian krupuk ini yaa” (ucapnya).

Saking banyaknya peminat dari kerupuk terigu tersebut, membuat tukang bemo harus bolak balik ke tempat bungkus kerupuk untuk mengambil kerupuknya. Awal mulai usaha karyawannya sampai ada yg menginap disana. Karyawan-karyawannya bernama papuk Sari, papuk Aminah, Kamdiah, Eri Dencor, dan masih banyak lagi karyawannya. Bahkan ada yang dari Gertok, Kebon dan Dopang.